KOLOM DOSEN

CERPEN : WAJAH BAPAK

Wajah Bapak


Oleh : Chyndy F.S*

Kulukis wajah bapak di mana-mana. Di tembok-tembok, di jalan-jalan, di trotoar, bahkan di pintu kamar mandi. Semua kupenuhi dengan gambar bapakku. Gambar yang abstrak, tak jelas bentuknya.Karena aku sendiri tak pernah tahu seperti apa bentuk bapakku yang sebenarnya.
Eitt! Tunggu dulu! Apa maksudnya ini? Kau pasti bingung bukan? Ah, jangankan kau, kawan, aku sendiri pun bingung bukan kepalang. Tak tahu seperti apa bentuk bapakku. Apakah dia berbentuk seperti manusia pada umumnya? Ataukah dia adalah mahluk tinggi besar semacam raksasa? Wah, atau jangan-jangan dia itu dulu hantu hutan yang menyamar lalu menculik ibuku? Ah, entahlah. Aku benar-benar tak bisa mengira-ngira seperti apa bentuk bapakku. Makanya kugambar saja sekehendak hatiku.
Suatu hari, saat aku melihat segerombolan petani menarik makhluk besar berwarna putih polos untuk dimandikan di sungai, aku menduga bapakku adalah mahluk seperti itu. Maka aku pun menggambarkannya di pohon-pohon. Namun, di hari yang lain aku telah menggambar wajah yang lain pula. Setelah aku melihat arak-arakan makhluk kecil yang menari-nari diiringi genderang dan dikerumuni oleh anak-anak kecil di kampungku. Aku menduga wajah bapakku seperti itu. Begitu pula jika aku melihat bentuk-bentuk wajah aneh di sekelilingku, maka aku langsung menggambarkannya, sampai-sampai di mana-mana telah penuh dengan gambar abstrak “wajah bapak”-ku.
Kemarin ibuku marah, karena rumah kami telah penuh gambar aneh yang kuduga sebagai wajah bapakku.”Dasar anak setan!,” maki ibu. Aku tersentak. Wah! Ternyata benar, kawan, bapakku memang bukan manusia. Ibuku sendiri saja bilang jika bapakku setan. Ah, aku jadi ingin mengembara mencari bapakku, biar lebih dramatis seperti dalam cerita pewayangan. Seorang anak yang berkelana mencari bapaknya yang ternyata adalah seorang raja. Pasti hebat, bukan? Namun, andai benar kata ibuku, bahwa bapakku adalah setan, lantas akan kucari dia di mana? Di manakah adanya kerajaan setan? Ah, kawan, aku jadi tambah bingung saja.

Hari ini saat aku mendorong si Joko jatuh dari pohon hingga kepalanya bocor, ibunya marah-marah padaku sambil berteriak-teriak, “Dasar anak pelacur! Anak haram! Bisa-bisanya kau mencelakai anakku, heh?” Aih… apa pula yang dikatakan wanita gendut ini? Aku tak mengerti arti ucapannya, maka aku pun mencoba membantah, “Bukan! Aku bukan anak pelacur! Aku… anak… SD!,” jawabku polos.
Wanita gendut ibu si Joko semakin muntab saja, tapi sepertinya dia tahu bahwa tak ada gunanya marah-marah padaku. Maka ia pun tak puas, dan kali ini mendatangi ibuku.
“Hei, pelacur! Urus anak harammu itu! Dia sudah bikin bocor batok kepala anakku!,” teriaknya. Ibuku hanya diam tak berani membantah. Sesekali dia berkata pelan, “Maaf!”, sambil menghapus air yang meleleh dari sudut matanya.
Saat itulah aku baru sadar. Terlepas dari siapa dan bagaimana wujud bapakku, yang aku tahu dia telah menyengsarakan ibu dan aku. Ya, aku juga sengsara, kawan, karena setelah kejadian si Joko itu, ibu memukul pantatku hingga merah-merah dan sakitnya kurasakan hingga beberapa hari. Tapi aku tak marah pada ibu, aku justru semakin benci pada bapakku. Semakin lama wajahnya semakin abstrak saja, tapi toh aku tak peduli. Tak ada lagi niat untuk mencarinya seperti dalam cerita-cerita pewayangan, walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku masih penasaran.
Kini hari-hariku kulalui bersama ibuku. Sejak kejadian si Joko dulu aku tak pernah nakal lagi. Aku tak mau membuat ibu bersedih lagi. Takkan kubiarkan air itu menetes dari matanya yang sebening telaga. Dan selama ini kami hidup berbahagia berdua, meski tanpa bapak “abstrak”-ku.
Kini aku telah beranjak menjadi sesosok remaja yang tampan (Ah, itu sih kata si Siti yang memang sudah tergila-gila padaku sejak SMP dulu). Tapi entah kenapa aku justru sering melihat ibu bersedih. Bahkan hari ini ibu menangis. Padahal, kawan, sejak kejadian si Joko dulu itu ibu sudah tak pernah lagi meneteskan air matanya. Aku heran, tapi sebelum aku bertanya, ibu sudah terlebih dahulu berkata padaku:
Le… kamu sudah gedhe ya? Wajahmu itu persis kayak bapakmu,” katanya lembut sambil membelai wajahku. Bibirnya bergetar mengatakan hal itu, menahan air yang hampir tumpah dari matanya yang sebening telaga. Ya Tuhan, ujian macam apa lagi ini? Mengapa aku benci pada kenyatan ini? Bukankah dia yang selama ini kucari tahu seperti apa bentuknya kini telah kudapatkan gambarannya? Aih, rupanya beginikah wajah “abstrak” bapakku? Wajah yang selama ini kucari justru tercermin di wajahku?
Ah, aku jadi semakin benci saja pada wajahku. Wajah yang mengingatkan ibuku pada sosok abstrak yang harusnya kusebut sebagai bapakku. Ibu nampak sangat tersiksa menahan rasa di hatinya. (Inilah rindu, ya… ibuku rindu pada si “abstrak”: sinar matanya yang mengatakan itu)

Aku merasa kasihan pada ibuku yang harus menanggung beban seberat ini sendiri. Belakangan ibu menjadi lebih pemurung dan kurasakan beliau menjaga jarak denganku. Aku tak pernah dan tak mau menyalahkan ibu atas semuanya. Karena aku tahu, ibu sendiri pasti sudah tersiksa, dan aku tak mau menambah beban pikirannya. Aku hanyalah membenci diriku sendiri. Kenapa wajah “abstrak” itu tercermin di wajahku?
Malam itu aku berjalan sendirian di bawah rintik hujan. Seharian ini aku belum pulang ke rumah. Bukan aku tak mau, hanya enggan. Karena aku takut jika aku pulang nanti, aku hanya membuat ibu sedih karena melihat wajahku.
Aku berjalan sendirian dalam kegelapan yang menemaniku. Tak tentu arah. Wajah ibu yang menangis tiba-tiba melintas di mataku. Entah kenapa aku merasa rindu pada ibu. Sejak wajah “abstrak” itu muncul di wajahku, aku dan ibu menjadi jauh. Sepertinya ibu menghindariku. Tapi, mungkinkah aku yang menjauhinya? Kenapa? Oh ya, mungkin juga karena aku benci dengan kenyataan ini. Aku takut mengingatkan ibu pada “luka lama” kami. Ya, aku takut memunculkan sosok abstrak yang harusnya kupanggil bapak itu lewat wajahku.

AAAArrrrrggggghhhh!!!!!!
Aku berteriak kencang di sebuah jalan lengang di ujung kampungku. Gerimis masih menemaniku saat itu. Semakin dramatis saja rupanya. Dan aku kembali melanjutkan langkahku, saat wajah ibu kembali melintas. Jantungku berdegup kencang. Kali ini kulihat gambar-gambar abstrak “bapakku” yang kulukis saat aku kecil dulu, kini muncul di hadapanku, seakan menerorku.
Mereka muncul dari jalan-jalan yang kulewati, dari tembok-tembok, dari pintu pagar tetanggaku. Gambar-gambar itu hidup dan menyeringai tajam ke arahku. Satu gambar yang paling menyeramkan muncul dari tembok rumah tetanggaku. Hei, bukankah aku tak pernah melukis gambar abstrak bapakku di sana? Namun kenapa gambar itu muncul dari sana. Seolah hidup, dan kini mendekatiku.
“Hei… akulah bapakmu!” katanya.
Aku muak pada gambar abstrak itu. Maka aku pun membantahnya.
“Bukan! Kau bukan bapakku! Aku tak pernah punya bapak!” teriakku murka. Kuambil batu besar yang teronggok di depanku lalu kulemparkan ke arahnya. Prang! Batu itu mengenai kaca rumah dari mana ia berasal. Aku berlari. Tak kupedulikan istri si empunya rumah memaki-maki diriku.
Aku terus berlari menerobos hujan, kali ini tujuanku adalah pulang. Sepintas di antara hujan kilihat gambar-gambar abstrak bapakku tampak hidup, seolah mengejarku. Aku tergopoh-gopoh sampai di rumah. Kubuka pintu dengan tergesa. Kulihat ibu tengah bercengkrama dan tertawa. Aih, dengan siapa gerangan? Ibu menoleh menyadari kehadiranku. Dengan senyum terkejut, ibu menghampiriku dan berkata,
Le, kamu sudah pulang? Kenalkan, ini bapakmu, nak. Bapak yang selama ini kamu tanyakan dan kamu cari, cah bagus.” Aku bergeming. Aku merasa seperti berkaca. Inikah rupanya bapakku? Bukankah ini gambar yang kulihat di tembok rumah tetanggaku tadi? Ah… ternyata dia mengikutiku sampai di sini. Aku muntab. Aku merasa diperdayai. “Bukan! Kau bukan bapakku!” teriakku. Refleks kuambil kayu palang pintu. Dengan sekali gebuk saja, maka tumbanglah sosok di hadapanku.
Ibuku menjerit histeris. Oh, tidak! Aku telah membuat ibuku menangis. Ah, aku semakin benci saja dengan wajah ini. Aku kalut dan segera berlari ke luar rumah menerobos hujan yang semakin deras. Entah apa yang akan diperbuat ibu untuk mengurus sosok yang terkapar di rumah kami dengan bersimbah darah (yang konon, kata ibu dialah bapakku).
Aku tak bisa berpikir jernih. Hanya benci mendalam yang kubawa lari. Ah, kini aku juga seorang pembunuh! Tapi, aku kan hanya membunuh gambar abstrak yang tadi muncul dari tembok rumah tetanggaku? Hei! Mengapa pula ibu bilang dia bapakku? Oh Tuhan, apa yang terjadi? Aku terpaku di tengah jalan di bawah hujan sambil memejamkan mata. Kudengar suara wanita menjerit. Dan saat aku membuka mata, melihat tubuh bersimbah darah telah terkapar di depanku. Namun itu bukan wajah bapakku yang tadi kupukul dengan kayu palang pintu, meski memang serupa benar.
Ya, benar itu wajahku. Kulihat orang-orang itu mengerumuniku yang tergeletak bersimbah darah. Ibu ada di antara orang-orang itu. Dan ia menangis. Ah, bahkan di saat-saat seperti ini aku masih juga membuatnya menangis. Aku mencoba menyentuhnya, tapi aku tak bisa. Rupanya, aku sudah benar-benar menjauh dari ibuku.
Sementara itu, dari tembok rumah tetanggaku, aku melihat wajah abstrak bapakku yang juga bersimbah darah menyeringai puas ke arahku.

Surabaya, 29 Oktober 2008

cindy

*)Chyndy Febrindasari, S.Pd., M.A


Penulis lahir di Tulungagung, Jawa Timur

Telah menempuh pendidikan Pascasarjana (S2) Pendidikan Bahasa Indonesia di UGM Yogyakarta dan Lulus Tahun 2015

Saat ini berstatus sebagai Dosen Bahasa Indonesia Di UIN Walisongo Semarang