Semarang – Suasana hangat dan penuh semangat akademis mewarnai Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang pada Jumat pagi, 27 Februari 2026. Tepat pukul 08.00 WIB, delegasi dari UIN Mataram tiba di gedung PPB UIN Walisongo Semarang untuk melaksanakan studi banding. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Pengembangan Bahasa UIN Mataram, Dr. H. Muhsinin, MA, bersama Kepala Pusat Pengembangan Bisnis UIN Mataram, Prof. Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. Kehadiran dua pimpinan dari dua unit sekaligus mencerminkan kesungguhan UIN Mataram dalam mempelajari model pengelolaan layanan bahasa dan pengembangan bisnis yang telah berhasil diterapkan di UIN Walisongo Semarang.

Setelah disambut hangat oleh Kepala PPB UIN Walisongo Semarang, delegasi langsung diajak meninjau Aula Lantai 1 gedung PPB, yang menjadi pusat penyelenggaraan tes Walisongo English Proficiency Test (WEPT) dan Ikhtibar Miyar Kafaah Al-Arabiyyah (IMKA). Ruang ini beroperasi secara rutin setiap minggu dengan dua sesi harian, yakni pukul 09.00 dan 13.30 WIB, melayani mahasiswa S1, pascasarjana, alumni, dan masyarakat umum. Delegasi tampak antusias mengamati tata ruang, fasilitas, dan alur pelaksanaan tes yang telah dirancang sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman ujian yang nyaman, tertib, dan berintegritas tinggi.

Dalam sesi diskusi, terungkap sejumlah perbedaan mendasar antara kondisi kedua institusi yang justru menjadi bahan refleksi berharga. Dr. H. Muhsinin, MA mengungkapkan bahwa hingga saat ini PPB UIN Mataram belum mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk lulus English Proficiency Test seperti WEPT maupun Tes Kemampuan Bahasa Arab seperti IMKA sebagai syarat akademik. Padahal, kebijakan kewajiban kelulusan tes kemampuan bahasa inilah yang menjadi salah satu fondasi utama PPB UIN Walisongo Semarang dalam membangun volume layanan tes yang besar dan berkelanjutan, sehingga berdampak langsung pada pertumbuhan pendapatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Selain itu, PPB UIN Mataram juga belum memiliki gedung operasional sendiri, sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan PPB UIN Walisongo Semarang yang telah memiliki gedung representatif dengan aula tes di lantai 1, ruang kelas, serta berbagai fasilitas pendukung layanan bahasa. Delegasi pun tampak terinspirasi melihat bagaimana ketersediaan infrastruktur yang memadai menjadi pendorong utama bagi PPB UIN Walisongo Semarang dalam mengembangkan layanan secara lebih profesional, terstruktur, dan berdampak luas bagi civitas akademika maupun masyarakat umum.

Sesi diskusi pun berlangsung sangat dinamis. Dr. H. Muhsinin, MA dan Prof. Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. mengajukan berbagai pertanyaan mendalam mengenai perjalanan PPB UIN Walisongo Semarang dalam mengembangkan portofolio layanannya. PPB UIN Walisongo berbagi pengalaman tentang pengelolaan program kursus bahasa yang kini telah mencakup Kursus TOEFL, Kursus IMKA, English for Kids, English for Teens, dan English for University — lima program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan berbagai segmen pengguna, mulai dari anak usia dini hingga mahasiswa perguruan tinggi. Setiap program diampu oleh tutor profesional dengan kualifikasi ketat; tutor Kursus TOEFL, misalnya, dipersyaratkan memiliki skor TOEFL ITP minimal 550 atau IBT minimal 79.

Diskusi juga mencakup layanan terjemahan dan proofreading yang kini menjadi salah satu andalan PPB UIN Walisongo Semarang. Layanan ini meliputi terjemahan artikel jurnal, buku, dan dokumen resmi dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab, serta layanan proofreading teks akademik berbahasa Inggris dan Arab. Pengelolaan layanan ini didukung oleh tenaga profesional berpengalaman dan sistem pembayaran yang telah terintegrasi melalui portal resmi universitas.

Delegasi juga mendapat pemaparan mendalam tentang inovasi sistem tes online berbasis Moodle yang telah menjadi salah satu keunggulan kompetitif PPB UIN Walisongo Semarang. Platform e-learning PPB di elearningppb.walisongo.ac.id tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyelenggaraan tes TOEFL-like dan IMKA secara daring dengan tarif Rp 270.000 per peserta, tetapi juga menyediakan ribuan butir latihan soal TOEFL dan IMKA yang dapat diakses secara mandiri oleh seluruh mahasiswa maupun peserta kursus. Dengan demikian, platform ini hadir sebagai sarana belajar sekaligus sarana uji yang terintegrasi dalam satu ekosistem digital. Keseluruhan sistem dilengkapi dengan fitur proctoring berlapis — yakni plugin proctoring Moodle yang merekam video peserta melalui webcam, Safe Exam Browser (SEB) yang mengunci akses browser selama tes berlangsung, serta pengawasan tambahan melalui Zoom Meeting — untuk memastikan integritas akademik yang tinggi tanpa mengorbankan aksesibilitas bagi pengguna di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, PPB UIN Walisongo Semarang juga memaparkan pengembangan tes WEPT-IMKA Hybrid — sebuah model inovatif yang menggabungkan kenyamanan teknologi dengan pengawasan langsung. Dalam format ini, peserta hadir di ruang ujian namun mengerjakan soal melalui smartphone Android yang terhubung ke sistem Moodle, dengan fitur auto-save, koreksi otomatis, dan randomisasi soal untuk menjamin keadilan ujian. Model hybrid ini kini digunakan untuk pre-test mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang.

Salah satu pencapaian yang mendapat perhatian khusus dari delegasi UIN Mataram adalah kerjasama PPB UIN Walisongo Semarang dengan Indonesian International Education Foundation (IIEF) Jakarta dalam penyelenggaraan tes ITP TOEFL resmi. Kerjasama yang telah berjalan sejak awal tahun 2025 ini memungkinkan peserta mengikuti tes ITP TOEFL digital serentak, dan sejak Desember 2025 diperluas dengan penyelenggaraan tes ITP TOEFL secara offline. Sertifikat yang diterbitkan berlaku secara internasional selama dua tahun dan diakui oleh berbagai institusi pendidikan dan lembaga profesional di seluruh dunia.

Semua capaian layanan ini tidak terlepas dari investasi serius PPB UIN Walisongo Semarang dalam pengembangan sumber daya manusianya. Kepada delegasi, PPB berbagi pengalaman tentang proses rekrutmen penerjemah, proofreader, dan tutor yang dilakukan secara selektif melalui tahap seleksi berkas, tes kemampuan, dan wawancara. Untuk memastikan kualitas layanan, PPB secara rutin menyelenggarakan pelatihan internal, di antaranya Pelatihan Penerjemahan dan Proofreading yang difasilitasi oleh Pak Nanang pada 14–15 Maret 2025, serta Pelatihan Pengajaran Bahasa Inggris oleh Pak Bastian pada 21–22 Maret 2025.

Kerja keras dan inovasi yang konsisten ini telah mengantarkan PPB UIN Walisongo Semarang meraih penghargaan bergengsi sebagai unit dengan Kinerja Pendapatan Terbaik ke-2 Kategori Unit di lingkungan UIN Walisongo Semarang. Sepanjang tahun 2025, PPB UIN Walisongo Semarang berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp 1.481.901.250 — sebuah pencapaian luar biasa yang mencerminkan kepercayaan penuh masyarakat terhadap kualitas layanan PPB sekaligus membuktikan bahwa inovasi berkelanjutan dan diversifikasi layanan mampu mengangkat unit pelaksana teknis menjadi salah satu kontributor pendapatan terkemuka di lingkungan UIN Walisongo Semarang.

Menatap ke depan, PPB UIN Walisongo Semarang memaparkan visi ambisius untuk tahun 2026, termasuk rencana pembangunan Self-Access Center (SAC) yang akan mengintegrasikan rak-rak koleksi graded readers, ruang pemutaran film 3D sebagai media pembelajaran inovatif, serta coworking space dengan dua meja berkapasitas masing-masing enam orang, lengkap dengan fasilitas listrik untuk laptop. Seluruh fasilitas SAC dapat dinikmati dengan langganan terjangkau sebesar Rp 25.000 per semester. Selain itu, PPB juga merencanakan renovasi dua ruang kelas dengan sekat temporer yang dapat dibuka-tutup, sehingga fleksibel digunakan baik untuk tes ITP TOEFL dan IELTS maupun untuk kegiatan pembelajaran berbasis media.

Kunjungan studi banding ini ditutup dengan suasana penuh keakraban. Dr. H. Muhsinin, MA menyampaikan apresiasinya atas keterbukaan PPB UIN Walisongo Semarang dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan. Ia berharap kunjungan ini dapat menjadi titik tolak bagi PPB UIN Mataram untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanannya. Prof. Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd. menambahkan bahwa sinergi antarunit pengembangan di lingkungan PTKIN merupakan kunci penting dalam mewujudkan layanan pendidikan Islam yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Bagi PPB UIN Walisongo Semarang, kunjungan ini bukan sekadar rutinitas akademis, melainkan sebuah pengingat bermakna bahwa perjalanan panjang dalam membangun layanan bahasa yang unggul — dengan segala inovasi, dedikasi, dan kerja keras tim — kini telah menjadi inspirasi bagi institusi-institusi lain di seluruh Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *