Semarang — Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Workshop Strategi Pengajaran TOEFL yang Efektif dan Inovatif pada Rabu, 15 Juli 2026, pukul 08.00–12.00 WIB, bertempat di Ruang 2.5, Lantai 2, Gedung Pusat Pengembangan Bahasa UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas dosen, instruktur TOEFL, staf PPB, mahasiswa, dan dosen Pendidikan Bahasa Inggris FTIK, dengan menghadirkan narasumber Petra Kristi Mulyani, S.Pd., M.Ed., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Workshop ini digagas sebagai respons atas kebutuhan mendesak pada pengajar TOEFL yang tidak sekadar menguasai kaidah kebahasaan, tetapi juga memahami konstruksi tes, strategi menjawab soal, dan teknik pengelolaan waktu — tiga hal yang membedakan pengajaran TOEFL dari pengajaran bahasa Inggris pada umumnya. Sebagai penyelenggara ITP TOEFL, PPB memandang kompetensi instruktur sebagai penentu langsung kualitas layanan kursus dan tingkat keberhasilan peserta ujian mencapai skor target.

Membedah Anatomi Tes TOEFL ITP

Sesi pertama membuka wawasan peserta tentang struktur TOEFL ITP secara menyeluruh, mulai dari perbandingannya dengan TOEFL iBT hingga rincian setiap bagian tes. Narasumber memaparkan bahwa TOEFL ITP Level 1 terdiri atas 140 soal pilihan ganda yang mencakup Listening Comprehension, Structure and Written Expression, dan Reading Comprehension, dengan total durasi sekitar 115 menit dan rentang skor 310–677. Berbeda dari TOEFL iBT yang menguji empat keterampilan berbahasa secara terintegrasi termasuk speaking dan writing, TOEFL ITP berfokus pada keterampilan reseptif dan penguasaan tata bahasa, sehingga cocok digunakan institusi untuk keperluan penempatan, pemantauan progres, dan evaluasi program secara internal.

Strategi Efektif untuk Tiga Bagian Tes

Bagian Listening Comprehension diulas secara mendalam melalui tiga sub-bagian: percakapan pendek, percakapan panjang, dan ceramah akademik. Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan menjawab soal listening tidak hanya bergantung pada kemampuan mendengar, tetapi juga pada kepekaan terhadap parafrasa, idiom, inferensi, dan maksud tersirat pembicara. Menariknya, narasumber turut mengangkat temuan penelitian terbaru mengenai pentingnya kualitas catatan (note-taking) dalam mendukung pemahaman menyimak — bukan sekadar jumlah kata yang dicatat, melainkan seberapa terorganisir dan lengkap catatan tersebut memuat gagasan utama dan detail pendukung.

Pada bagian Structure and Written Expression, workshop menekankan pendekatan sistematis dalam mengajarkan pola-pola gramatika yang paling sering muncul, seperti kesesuaian subjek-predikat, bentuk kata kerja, kalimat pasif, hingga klausa nomina dan adjektiva. Peserta diperkenalkan pada kategori kesalahan umum yang lazim diuji, mulai dari paralelisme struktur hingga redundansi kalimat, sebagai peta jalan untuk merancang latihan yang lebih terarah dan terukur bagi peserta kursus.

Sementara itu, sesi Reading Comprehension menyoroti teknik membaca cepat, pengenalan kosakata akademik, dan manajemen waktu dalam menghadapi lima hingga enam bacaan sekaligus. Diskusi diperkaya dengan perspektif akademik mengenai bagaimana pemahaman siswa tentang membaca akademik terus berkembang — dari sekadar “belajar membaca” menuju “membaca untuk belajar” — yang mendorong pengajar membangun kebiasaan membaca strategis dan bertujuan, bukan sekadar latihan menjawab soal secara mekanis. Yang membuat workshop ini terasa berbeda dari pelatihan TOEFL pada umumnya adalah keberanian narasumber mengajak peserta berefleksi lebih jauh, misalnya soal ketegangan antara “mengajar untuk lulus tes” dan “mengajar untuk pemahaman”, peran antusiasme pengajar dalam meningkatkan keterlibatan siswa, serta peran bahasa ibu (L1) dalam kelas persiapan TOEFL melalui pendekatan translanguaging yang dinilai lebih inklusif dibandingkan kebijakan kelas berbahasa Inggris yang kaku.

Aplikasi Elearning: Inovasi Latihan TOEFL Mandiri

Momentum workshop ini juga dimanfaatkan PPB untuk meluncurkan aplikasi elearning berbasis daring yang dirancang khusus untuk mendukung latihan TOEFL secara mandiri, melengkapi pemanfaatan platform seperti Moodle yang turut dibahas oleh narasumber. Aplikasi ini menghadirkan TOEFL-like test yang mencakup pre-test dan post-test, sehingga peserta kursus dapat mengukur secara langsung sejauh mana peningkatan kemampuan bahasa Inggris mereka sebelum dan sesudah mengikuti program persiapan. Begitu menyelesaikan pre-test maupun post-test, peserta akan langsung memperoleh skor TOEFL sebagai gambaran capaian kemampuannya.

Aplikasi ini melingkupi tiga materi inti sesuai struktur TOEFL ITP, yaitu Structure and Written Expression, Reading Comprehension, dan Listening Comprehension. Setiap materi dilengkapi dengan bahan ajar yang dapat dipelajari peserta terlebih dahulu sebelum mengerjakan kuis latihan, sehingga proses belajar berjalan runtut dari pemahaman konsep menuju penerapan pada soal-soal latihan. Tidak berhenti di situ, setiap butir soal latihan turut disertai pembahasan lengkap, baik untuk jawaban yang benar maupun yang keliru, sehingga peserta tidak hanya mengetahui skor akhir, tetapi juga memahami logika di balik setiap jawaban dan dapat memperbaiki kekeliruan pemahamannya secara mandiri.

Harapan ke Depan

Melalui workshop dan peluncuran aplikasi elearning ini, PPB UIN Walisongo berharap dapat mencetak tim pengajar TOEFL internal yang solid, kompeten, dan terstandar, sekaligus menghadirkan sistem latihan mandiri yang terukur bagi peserta kursus untuk belajar lebih terarah dan termotivasi. Kedua inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan PPB dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dan layanan tes bahasa, sebagai fondasi peningkatan kualitas lulusan dan proses internasionalisasi UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *