Tasikmalaya — Auditorium Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus 2 Universitas Siliwangi (UNSIL) berubah menjadi pusat pertemuan para pengelola bahasa dari berbagai penjuru Indonesia. Selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 23–25 Juli 2026, UNSIL menjadi tuan rumah Workshop & Musyawarah Nasional Forum Institusi Layanan Bahasa (FILBA) 2026, forum tahunan yang mempertemukan pengelola pusat bahasa perguruan tinggi untuk berbagi gagasan, memperkuat jejaring, dan merumuskan arah baru layanan kebahasaan di kampus masing-masing.

Mengusung tema “Bridging Borders: The Strategic Role of Language Centers in Campus/University Internationalization”, forum yang pendaftarannya ditutup pada 18 Juli 2026 ini menghadirkan sederet pembicara nasional, mulai dari Prof. Sisilia S. Halimi, Richard Stevenson, Gita Nasution, Dr. Limala Ratni Sri K., hingga Dr. Ratu Sarah Pujasari, S.Pd., M.Pd. selaku tuan rumah dari UNSIL, dan Pratama Ahdi, S.S., M.Hum. dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ruang auditorium riuh oleh diskusi lintas institusi mengenai penjaminan mutu layanan bahasa, pengembangan profesionalitas pengelola lembaga bahasa, hingga strategi internasionalisasi kampus melalui optimalisasi peran pusat bahasa — sebelum akhirnya rangkaian acara ditutup dengan agenda Musyawarah Nasional yang menentukan arah kebijakan FILBA ke depan.

Di tengah hiruk-pikuk forum nasional itu, nama Semarang ikut mencuri perhatian. Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Walisongo Semarang hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan turut tampil di panggung utama. Pada hari pertama pelaksanaan, Kamis 23 Juli 2026, Daviq Rizal, M.Pd., Kepala PPB UIN Walisongo Semarang, didapuk sebagai narasumber pada plenary session 2 membawakan paparan bertajuk “Best Practice Pemanfaatan Moodle Berbasis Hosting PTIPD untuk Tes Profisiensi Bahasa dan Internasionalisasi Kampus”.

Di hadapan peserta dari berbagai perguruan tinggi, Daviq Rizal mengupas bagaimana PPB UIN Walisongo mengubah Moodle — platform Learning Management System (LMS) open-source yang cukup diinstal di hosting PTIPD/Pusat Komputer kampus — menjadi tulang punggung layanan tes bahasa yang efisien tanpa perlu investasi infrastruktur tambahan. Melalui domain elearningppb.walisongo.ac.id, platform ini menopang dua instrumen tes andalan PPB: WEPT (Walisongo English Proficiency Test) untuk bahasa Inggris dan IMKA (Ikhtibar Mi’yaril Kafa’ah Al Lughotil Arabiyyah) untuk bahasa Arab, lengkap dengan sistem konversi skor otomatis ke skala standar internasional.

Yang membuat peserta forum semakin antusias, Moodle di tangan PPB UIN Walisongo tidak berhenti sebagai alat tes semata. Daviq Rizal juga menunjukkan bagaimana platform yang sama disulap menjadi ruang latihan soal TOEFL mandiri — peserta bisa berlatih kapan saja, langsung mendapat skor begitu selesai mengerjakan, bahkan mempelajari pembahasan tiap butir soal untuk mengetahui letak kesalahannya. Namun sorotan terbesar justru jatuh pada rencana tes hybrid yang tengah disiapkan PPB dan akan segera diterapkan dalam waktu dekat: peserta nantinya tetap hadir secara fisik di aula agar pengawasan dan integritas ujian terjaga, namun mengerjakan soal langsung dari genggaman tangan mereka sendiri, lewat HP atau tablet. Skema ini melengkapi tes yang selama ini sudah berjalan berbasis laptop atau komputer, di mana Safe Exam Browser (SEB) diterapkan untuk mengunci akses ke aplikasi lain, dipadukan dengan randomisasi soal otomatis agar celah kecurangan tertutup rapat — formula yang menjawab persis tantangan yang selama ini dihadapi banyak pusat bahasa PTKIN di Indonesia.

Kiprah PPB UIN Walisongo di panggung UNSIL ini sejatinya bukan yang pertama. Sepanjang tahun lalu, nama PPB sudah lebih dulu dikenal lewat presentasi serupa di Workshop Nasional I FILBA di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Juli 2025) dan Workshop Nasional FILBA II di Universitas Mataram (Oktober 2025), yang keduanya berhasil menarik minat sejumlah perguruan tinggi lain untuk melakukan studi banding langsung ke Semarang. Momentum itu kini berlanjut dengan sejumlah capaian segar yang turut menjadi bekal PPB tampil di FILBA 2026: awal Juli lalu, PPB resmi meluncurkan layanan sertifikat digital untuk hasil tes WEPT dan IMKA bagi peserta umum maupun alumni, sementara laporan pendapatan BLU triwulan II 2026 mencatatkan lonjakan 46,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, tembus Rp856,7 juta hanya dalam semester pertama — bukti bahwa inovasi berbasis teknologi yang dipresentasikan di UNSIL bukan sekadar wacana, melainkan sudah terbukti membawa dampak nyata.

Dari mimbar FILBA 2026 di Tasikmalaya, cerita tentang Moodle, Safe Exam Browser, dan ujian yang tak lama lagi cukup dikerjakan lewat genggaman tangan ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai presentasi belaka, melainkan menjadi pemicu kolaborasi baru antarpusat bahasa se-Indonesia, sekaligus langkah nyata mendorong transformasi digital layanan bahasa menuju kampus yang makin siap bersaing di panggung internasional.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *