Setiap periode pelaksanaan Walisongo English Proficiency Test (WEPT) maupun tes TOEFL-Like, selalu ada saja peserta yang baru mengetahui skornya satu minggu setelah pelaksanaan tes dan justru terkejut karena hasilnya jauh dari harapan. Fenomena ini bukan hal baru. Banyak mahasiswa, alumni, bahkan tenaga pendidik yang sebenarnya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik dalam percakapan sehari-hari, tetapi justru kewalahan ketika dihadapkan pada format tes standar seperti WEPT. Penyebabnya sederhana namun sering diabaikan: mereka belum terbiasa dengan pola soal, tekanan waktu, dan gaya pengecoh (distractor) yang khas pada tes berformat TOEFL ITP, yang terdiri atas tiga sesi utama, yaitu Listening Comprehension, Structure and Written Expression, serta Reading Comprehension. Ketidaksiapan menghadapi ritme dan struktur soal inilah yang lebih sering menjadi biang keladi skor rendah, bukan semata-mata karena kemampuan bahasa Inggris yang kurang.
Satu hal yang membedakan WEPT dari tes TOEFL-Like pada umumnya adalah muatan temanya. Soal WEPT (Walisongo English Proficiency Test) meliputi tiga tema utama, yakni moderasi beragama, Islam dan budaya Islam, serta wawasan kebangsaan, yang tersebar dan terlihat pada ketiga sesi soal, baik Listening Comprehension, Structure and Written Expression, maupun Reading Comprehension. Dengan kata lain, peserta tidak hanya dituntut menguasai kaidah kebahasaan dalam bahasa Inggris, tetapi juga perlu terbiasa dengan konteks wacana bertema keislaman dan kebangsaan yang menjadi ciri khas soal-soal WEPT, sehingga latihan yang dilakukan idealnya juga mempertimbangkan kedekatan tema tersebut.
Yang membuat persoalan ini terasa lebih berat lagi adalah fakta bahwa peserta tidak bisa langsung mengetahui hasil pekerjaannya begitu keluar dari ruang ujian. Skor WEPT baru dapat dilihat dan diunduh dalam bentuk sertifikat digital paling lambat 1 minggu setelah pelaksanaan tes. Artinya, peserta harus menunggu selama itu tanpa kepastian, dan baru bisa mengevaluasi letak kelemahannya setelah rentang waktu tersebut berlalu, saat kesempatan untuk mengejar ketertinggalan sebelum keperluan mendesak (seperti syarat kelulusan atau seleksi kerja) sudah semakin sempit. Kondisi inilah yang semestinya mendorong setiap calon peserta untuk mempersiapkan diri sematang mungkin sebelum tes, alih-alih menunggu hasil keluar baru kemudian menyesal karena skornya tidak mencukupi.
Kabar baiknya, persoalan ini sebenarnya bisa diatasi tanpa perlu mengikuti kursus mahal atau les privat intensif. Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Walisongo telah menyediakan solusi yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal oleh calon peserta tes, yaitu platform e-learning PPB yang dapat diakses melalui elearningppb.walisongo.ac.id. Melalui platform berbasis Moodle ini, dosen maupun mahasiswa aktif UIN Walisongo dapat mendaftar secara gratis melalui formulir pendaftaran, kemudian mengikuti proses enroll akun yang dijadwalkan setiap tanggal 15 dan 30 setiap bulannya.
Sebenarnya, terdapat dua macam latihan soal yang bisa dimanfaatkan calon peserta tes, dan penting untuk memahami perbedaan keduanya. Pertama, ada Course TOEFL Exercises di Elearning PPB, yaitu paket latihan soal TOEFL-Like Test yang tersedia gratis untuk semua mahasiswa dan dosen aktif UIN Walisongo, tanpa perlu mendaftar kursus apa pun. Kedua, ada Kursus WEPT, yaitu program pembinaan berbayar yang menyediakan latihan soal WEPT secara gratis di dalam kursus tersebut, sekaligus gratis biaya tes online-nya, khusus bagi mereka yang terdaftar sebagai peserta kursus, sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut. Dengan kata lain, latihan soal mandiri lewat Course TOEFL Exercises bisa diakses oleh siapa saja kapan pun secara cuma-cuma, sementara fasilitas latihan soal WEPT dan tes gratis dalam Kursus WEPT hanya berlaku bagi peserta yang mengikuti program kursus tersebut.
Keunggulan sesungguhnya dari memanfaatkan e-learning ini bukan hanya soal gratisnya latihan soal, melainkan kesempatan untuk membiasakan diri dengan antarmuka ujian yang sama persis dengan yang akan digunakan pada hari pelaksanaan tes. Perlu diketahui, pelaksanaan WEPT secara daring memang menggunakan sistem paket soal dan pengaturan sesi yang dibuka-tutup secara bergantian antara Listening, Structure, dan Reading, persis seperti simulasi yang tersedia di elearningppb. Dengan kata lain, berlatih di platform ini bukan sekadar mengasah kemampuan berbahasa, tetapi juga melatih kesiapan teknis dan mental untuk menghadapi format ujian yang sesungguhnya. Peserta yang sudah beberapa kali mencoba simulasi biasanya lebih tenang saat hari H, karena tidak lagi disibukkan dengan rasa asing terhadap tampilan soal atau cara menjawab di layar.
Ada beberapa kiat praktis yang layak dicoba saat memanfaatkan latihan soal di e-learning tersebut. Untuk sesi Listening, biasakan mendengarkan rekaman sambil mencatat kata kunci, bukan berusaha memahami setiap kata secara harfiah, karena soal biasanya menguji pemahaman inti percakapan atau ceramah singkat, bukan hafalan kalimat demi kalimat. Untuk sesi Structure and Written Expression, alih-alih menghafal rumus tata bahasa secara kaku, akan lebih bermanfaat mengenali pola-pola kesalahan yang sering muncul, seperti kesesuaian subjek-predikat, penggunaan kata sambung, atau bentuk kata yang tidak paralel, karena pola semacam ini cenderung berulang dari satu paket soal ke paket soal berikutnya. Adapun untuk sesi Reading, latihan yang konsisten di e-learning akan mengasah kecepatan skimming dan scanning, sebuah keterampilan yang jauh lebih menentukan skor akhir dibandingkan sekadar penguasaan kosakata yang luas, sebab keterbatasan waktu sering kali menjadi musuh utama peserta pada sesi ini.
Bagi yang merasa latihan mandiri lewat Course TOEFL Exercises saja belum cukup, PPB juga membuka Kursus WEPT sebagai jalur pembinaan yang lebih terstruktur. Dengan biaya pendaftaran hanya Rp500.000, peserta tidak hanya mendapatkan pendampingan belajar secara bertahap selama masa kursus, tetapi juga biaya tersebut sudah termasuk tes WEPT online secara gratis khusus bagi peserta kursus setelah masa pembinaan selesai. Artinya, peserta kursus tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk mengikuti tes resmi setelah menuntaskan rangkaian pertemuan, berbeda dengan peserta umum yang memanfaatkan Course TOEFL Exercises secara gratis, namun tetap perlu mendaftar dan membayar tes WEPT secara terpisah jika ingin mendapatkan skor resmi. Skema kursus ini jelas lebih hemat dan efisien dibandingkan dengan mengikuti kursus di lembaga lain lalu membayar lagi untuk tes secara terpisah, sekaligus menjadi insentif tersendiri bagi mahasiswa yang ingin serius memperbaiki skornya dalam waktu yang lebih singkat dan terarah.
Agar gambaran lebih jelas, berikut contoh pembahasan singkat untuk sesi Structure and Written Expression maupun Reading Comprehension, yang polanya kerap muncul dalam latihan soal semacam ini.
Contoh soal Structure and Written Expression: “The committee ___ the proposal before the meeting adjourned.” dengan pilihan (A) had reviewed, (B) have reviewed, (C) reviewing, (D) to review. Jawaban yang tepat adalah (A) had reviewed, sebab kalimat ini menggambarkan dua peristiwa masa lampau yang urutannya perlu ditegaskan: peninjauan proposal terjadi lebih dahulu sebelum rapat ditutup. Pola semacam ini menuntut penggunaan past perfect tense untuk menandai peristiwa yang lebih dahulu terjadi di antara dua kejadian yang sama-sama berada di masa lalu, sementara pilihan (B) tidak sesuai dari segi subjek tunggal “the committee”, dan pilihan (C) serta (D) tidak membentuk struktur predikat yang gramatikal dalam konteks kalimat tersebut. Mengenali pola waktu semacam ini jauh lebih berguna daripada sekadar menghafal daftar rumus tenses secara terpisah-pisah.
Contoh soal Reading Comprehension: Andaikan tersedia sebuah bacaan singkat mengenai pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang, dan salah satu pertanyaannya berbunyi: “According to the passage, what is the main threat to coral reefs mentioned by the author?” dengan beberapa pilihan jawaban yang masing-masing merujuk pada penyebab yang berbeda. Strategi yang tepat bukanlah membaca ulang seluruh paragraf dari awal, melainkan langsung melakukan scanning pada bagian paragraf yang membahas ancaman utama, biasanya ditandai dengan kata kunci seperti “threat”, “main cause”, atau “primarily due to”. Begitu kata kunci itu ditemukan, peserta cukup mencocokkan kalimat di sekitarnya dengan pilihan jawaban yang tersedia, alih-alih menebak berdasarkan pengetahuan umum di luar teks. Kebiasaan mencari kata kunci semacam ini hanya bisa terbentuk lewat latihan berulang, dan itulah yang bisa terus diasah melalui Course TOEFL Exercises di E-Learning PPB.
Pada akhirnya, skor WEPT atau TOEFL-Like test yang rendah bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia lebih merupakan konsekuensi dari minimnya latihan yang terarah dan kurangnya keakraban dengan format tes itu sendiri. Ketersediaan E-Learning PPB semestinya menjadi modal yang sayang untuk dilewatkan, mengingat aksesnya yang mudah, biayanya yang nihil, serta kesesuaiannya dengan format ujian yang sesungguhnya. Membiasakan diri berlatih secara rutin, beberapa minggu sebelum jadwal tes, jauh lebih efektif dibandingkan dengan belajar sistem kebut semalam menjelang hari pelaksanaan. Maka, bagi siapa pun yang berencana mengikuti WEPT dalam waktu dekat, langkah paling bijak yang bisa diambil sejak sekarang adalah segera mendaftar akun di elearningppb.walisongo.ac.id dan memanfaatkan Course TOEFL Exercises sebagai bagian dari rutinitas persiapan diri, atau bagi yang menginginkan pendampingan lebih intensif sekaligus tes resmi tanpa biaya tambahan, mendaftar Kursus WEPT.
